Kesiapan Menikah vs Persiapan Pernikahan

2020-Dec-21

Individu lajang usia 25 hingga 40 tahun di Indonesia pasti seringkali menerima pertanyaan kapan menikah? Penulis sendiri mengalaminya waktu belum menikah, terutama setelah menyelesaikan pendidikan di jenjang magister. Ada kesan bahwa setelah menunaikan pendidikan, menikah adalah suatu keharusan. Seakan-akan menjadi lajang bukanlah suatu hal yang wajar. Seakan-akan siklus kehidupan dibuat secara sederhana: lahir – sekolah – lulus – menikah – punya anak – menikahkan anak – meninggal. Namun, benarkah demikian? Tepatkah jika kita mendorong teman, saudara, bahkan anak berusia 25 – 40 tahun yang masih lajang untuk segera menikah? Timbul pertanyaan, jangan-jangan tekanan tersebut membuat individu memasuki pernikahan karena “tekanan sosial” dan bukan karena individu yang bersangkutan sudah siap.